Perjalanan Menuju Generasi Bebas Stunting: Mengatasi Masalah Gizi dan Infeksi pada Anak
22 Jun 2025 | Ditulis oleh: Indira Erlinawati
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kurangnya nutrisi dan infeksi, yang ditandai dengan tinggi badan yang berada di bawah rata-rata anak seusianya.
Kondisi ini merupakan masalah serius di Indonesia. Pasalnya, prevalensi angka stunting di beberapa daerah di Indonesia masih cukup tinggi.
Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional pada tahun 2021, prevalensi angka stunting di Indonesia masih berada di angka 24,4%. Lalu, pada tahun 2022, angka tersebut turun menjadi 21,6%.
Namun, angka penurunan tersebut belum cukup. Pasalnya, pada tahun 2024, pemerintah menargetkan prevalensi stunting di Indonesia berada pada angka 14%.
Lalu, apa yang menyebabkan anak mengalami stunting dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak artikel ini sampai selesai!
Gejala Stunting pada Anak
Gejala stunting pada anak bisa terlihat sejak 1000 hari pertama setelah anak lahir. Berikut adalah beberapa gejala stunting pada anak:
- Tinggi lebih rendah dibanding anak seumurannya
- Sulit memahami hal-hal yang diajarkan
- Berat badan lebih rendah dibanding anak seumurannya
- Tidak produktif
- Perkembangan kemampuan fisik yang lambat, semisal berguling, duduk, berdiri, dan berjalan
Pertumbuhan Normal
Anak dengan stunting biasanya mengalami pertumbuhan yang lambat daripada anak kebanyakan. Lalu, seberapa besar pertumbuhan tinggi anak secara normal?
Berikut adalah ciri-ciri pertumbuhan tinggi anak secara normal:
- 0-12 bulan: pertumbuhan sekira 25 cm (faktor nutrisi sangat mempengaruhi pertumbuhan)
- 1-2 tahun: pertumbuhan sekira 12 cm (faktor hormon mempengaruhi pertumbuhan)
- 2-3 tahun: pertumbuhan sekira 7,6 cm per tahun
- 3 tahun-pubertas: pertumbuhan sekira 5 cm per tahun
Penyebab Stunting pada Anak
Berikut adalah beberapa penyebab umum stunting pada anak di Indonesia.
1. Intrauterine Growth Restriction (IUGR)
IUGR adalah kondisi ukuran janin yang lebih kecil dari ukuran normal. Pada dasarnya, IUGR disebabkan oleh kelainan pada plasenta, sehingga distribusi nutrisi dan oksigen ke janin tidak berjalan baik.
Menurut jurnal Maternal & Child Nutrition, IUGR dan kondisi bayi lahir prematur sangat erat kaitannya dengan stunting pada anak di Indonesia.
Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko seorang ibu hamil mengalami IUGR. Di antaranya adalah hipertensi, diabetes, malnutrisi, anemia, kelainan genetik, dan pengaruh obat-obatan.
2. Kurangnya Nutrisi saat Hamil
Saat hamil, wanita perlu mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi agar janin dapat berkembang secara baik.
Hal ini juga dibuktikan dalam penelitian yang dimuat di jurnal Maternal & Child Nutrition. Menurut penelitian, kurangnya nutrisi selama masa kehamilan, berkaitan erat dengan kasus stunting pada saat anak berusia 6-59 bulan.
Biasanya, hal ini terjadi ibu hamil dan pasangannya yang kurang teredukasi mengenai gizi saat hamil.
3. Kurangnya Nutrisi pada Anak
Dalam beberapa kasus, anak yang mengalami stunting juga disebabkan kurangnya nutrisi yang dikonsumsinya dari sejak lahir hingga tumbuh besar.
Menurut studi yang dimuat Acta Biomedica, dua tahun pertama setelah kelahiran adalah periode penting dalam masa pertumbuhan. Maka dari itu, anak membutuhkan makanan bernutrisi tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan mencegah terjadinya stunting.
Selain itu, anak usia 0-3 tahun tidak boleh kekurangan ASI. Menurut WHO, definisi kurangnya ASI meliputi tertundanya pemberian ASI, pemberian MPASI sebelum waktunya, dan berhenti memberikan ASI sebelum waktunya.
Sebisa mungkin Sahabat MIKA memberikan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan tanpa makanan pendamping. Pasalnya, menurut penelitian, pemberian MPASI sebelum usia bayi enam bulan, akan meningkatkan risiko stunting.