Stunting pada Balita: Masalah Gizi Kronis yang Perlu Diatasi

Stunting pada Balita: Masalah Gizi Kronis yang Perlu Diatasi

12 May 2025 | Ditulis oleh: Dyah Arum H


Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibanding standar usia. Hal tersebut terjadi karena anak mengalami kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yaitu sejak janin hingga anak berusia 2 tahun. Stunting berdampak tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan risiko penyakit di kemudian hari.¹

Penyebab dan Faktor Risiko Stunting

Stunting terjadi akibat beberapa faktor yang saling berkaitan. World Health Organization (WHO) dan United Nation Children Fund (UNICEF) mengidentifikasi bahwa stunting disebabkan oleh asupan gizi yang tidak adekuat dalam jangka panjang, infeksi berulang, praktik pengasuhan yang kurang optimal, serta keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan dan sanitasi yang memadai. Faktor ekonomi keluarga juga menjadi penentu penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.²

Dampak Jangka Panjang Stunting

Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar yang rendah, dan penurunan produktivitas saat dewasa. Selain itu, mereka juga memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas di kemudian hari. Dampak ekonomi dari stunting sangat signifikan karena berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ekonomi suatu negara.³

Langkah Pencegahan dan Penanganan

Mencegah stunting memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai sektor. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi dan dilanjutkan dengan pemberian MPASI yang tepat dan berkualitas menjadi langkah awal yang sangat penting. Pemantauan pertumbuhan rutin melalui kegiatan Posyandu merupakan upaya deteksi dini stunting yang efektif.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengembangkan program intervensi spesifik dan sensitif untuk mengatasi stunting, termasuk pemberian suplemen gizi, imunisasi lengkap, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Peran tenaga kesehatan khususnya bidan dan kader Posyandu sangat penting dalam edukasi dan pendampingan keluarga yang memiliki balita berisiko stunting.⁴

Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting

Keluarga terutama ibu memiliki peran krusial dalam pencegahan stunting melalui praktik pemberian makan yang baik dan stimulasi yang memadai untuk anak. Pengetahuan tentang pola makan bergizi seimbang dan pentingnya makanan beragam perlu ditingkatkan. Keterlibatan ayah dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan anak juga berkontribusi pada penurunan risiko stunting.

Hal Penting yang Perlu Diingat

Stunting dapat dicegah melalui intervensi tepat pada 1000 HPK. Pemantauan pertumbuhan secara berkala, asupan gizi seimbang, dan lingkungan yang sehat merupakan kunci utama dalam mencegah stunting. Dengan pendekatan komprehensif dari berbagai pihak, diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.